BERITA tentang aksi mahasiswa yang dihiasi kekerasan sempat ramai beberapa waktu belakangan ini. Demonstrasi mahasiswa selama ini dikenal berperan sebagai penyambung aspirasi hati nurani rakyat yang tersumbat. Namun tak dimungkiri, aksi-aksi tersebut kerap pula berefek samping, dari mulai kemacetan, kerusakan, hingga korban luka atau nyawa, yang dinilai tidak simpatik oleh sebagian masyarakat. Apakah gerakan mahasiswa rentan dengan kekerasan?
Belum lagi sinyalemen peran “puppet master” di balik aksi mahasiswa, hingga melahirkan jargon mutakhir dalam politik Indonesia kontemporer, yakni “sontoloyo”. Berikut beberapa kawan Kampus para pengurus BEM yang duduk bersama dalam forum BEM Seluruh Indonesia yang digelar di Wisma Diklat Bina Marga, Bandung, 11-13 Juli lalu, memberikan opininya.
Khairurrizqo, Divisi Luar Negeri BEM Unsoed
SOAL gerakan mahasiswa yang mengandung kekerasan, kami agak rugi juga sebenarnya. Hanya karena aksi segelintir elemen, namun masyarakat melihatnya umum. Mahasiswa semuanya jelek, padahal kan tidak. Setiap elemen memang berhak untuk punya metode sendiri, tapi masalahnya kadang tidak melihat jalannya aturan. Tetapi dapat dimengerti bahwa itu bagian dari kekecewaan masyarakat. Mahasiswa kan indikator suhu masyarakat. Kalau mahasiswanya suhunya naik, berarti masyarakatnya sudah mengharapkan sesuatu yang lebih baik lah.
Abustomih, Ka.Dept.Sospol BEM UNJ Jakarta
TENTANG aksi kekerasan, gerakan mahasiswa jadinya dikategorikan hanya satu, padahal tidak demikian. Aksi seperti itu menurut saya muncul akibat akumulasi agregasi gerakan mahasiswa yang sudah kalut. Beberapa teman sudah mulai kehilangan arah. Kalau di negara lain, gara-gara aksi, pemimpinnya bisa mundur. Kalau di Indonesia, gara-gara kelaparan atau mahasiswa sampai aksi jahit mulut, itu kayak enggak ngaruh. Mahasiswa sering tak diacuhkan. Kesimpulannya, mereka yang di eksekutif, legislatif, yudikatif, kebijakan mereka yang tidak prorakyat jauh lebih vandalis daripada aksi yang dilakukan mahasiswa. Seharusnya memang gerakan mahasiswa, tidak mengedepankan vandalisme, akan tetapi lebih pada memberi solusi. Banyak hal bisa dilakukan, misalnya, diskusi di pojok kampus, menulis artikel di media massa, pewacanaan lewat seminar.
Hariyono, anggota BEM Universitas Tanjungpura Kalbar
AKSI sebenarnya bagus, memperjuangkan hak-hak rakyat. Mahasiswa merasa terpanggil untuk tidak diam saja. Memang aksi anarkistis itu rentan terhadap kritik dan kepentingan, namun bagaimana aksi mahasiswa agar tidak dipolitisasi oleh kepentingan. Soal ditunggangi itu sih tidak dimungkiri. Mungkin ada, namun kita berharap BEM SI jangan begitu. Aksi-aksi sendiri kan banyak. Di Kalbar sendiri juga banyak. Namun ekspos media agak kurang, hanya masuk media lokal, bukan media nasional, padahal isunya besar.
Gena, Presiden BEM Kema Unpad
BEM SI tidak pernah punya iktikad sekalipun untuk aksi semacam itu yang kontraproduktif. Kita mencoba membuat solusi konkret, bukan hanya struktural, tetapi kultural juga. Sehingga masyarakat bisa melihat bahwa mahasiswa nggak hanya aksi saja. Di BEM SI sendiri, intinya ada dua poin, yaitu, soft movement dan powerful movement. Kalau soft movement, seperti sekolah antikorupsi, program bina desa sebagai community development, dsb. Masalahnya, banyak hal kreatif yang dilakukan mahasiswa tapi tidak terekspos masif oleh media massa. Yang diekspos malah aksinya, aksinya yang rusuh pula. Aparat juga sudah punya frame kalau aksi mahasiswa itu pasti chaos.
Maulana Muhammad, Presiden BEM USTJ Papua
KALAU aksi mahasiswa semuanya simpatik kok. Kalau mengganggu ketertiban umum, sepertinya yang lebih terganggu selama ini yang lebih sengsara adalah umumnya. Di Papua sendiri, 36 tahun bergabungnya Papua tidak membuat Papua maju secara signifikan, tetapi pusat yang lebih kuat. Aksi mahasiswa yang mengandung vandalisme itu wajar. Ketika pemerintah tidak bisa mengimplementasikan yang dijanjikan, wajarlah rakyat berteriak. Pemerintah seakan buta tuli. Di lapangan sendiri, aparat sebagai mesin negara juga jadi pemicu. Kita kalau gerakan di Papua, pengamannya dengan persenjataan lengkap, seperti kita adalah teroris.
Hendra Gunawan, Presiden BEM Universitas Riau
SEBENARNYA yang kita bela pada hari ini kan rakyat. Kalau kemudian dengan aksi yang ternyata terjadi adalah rakyat tidak simpati, nanti rakyat jadi bertanya, apa yang dibela? Aksi yang destruktif, namanya juga di lapangan semua bisa terjadi. Ada pemicu, bisa juga dari aparat, bisa juga dari para demonstran. Tapi walau pemerintahan sangat bebal, ketika kita tidak menyampaikan aspirasi dengan santun, kita kan sama juga dengan mereka yang kita protes. Aksi kita harus didukung data ilmiah, bukan asal-asalan.***
dewi irma
kampus_pr@yahoo.com



