Posted by: abustomih | 8 August 2008

Kebijakan tidak Prorakyat Lebih Vandalis!

BERITA tentang aksi mahasiswa yang dihiasi kekerasan sempat ramai beberapa waktu belakangan ini. Demonstrasi mahasiswa selama ini dikenal berperan sebagai penyambung aspirasi hati nurani rakyat yang tersumbat. Namun tak dimungkiri, aksi-aksi tersebut kerap pula berefek samping, dari mulai kemacetan, kerusakan, hingga korban luka atau nyawa, yang dinilai tidak simpatik oleh sebagian masyarakat. Apakah gerakan mahasiswa rentan dengan kekerasan?

Belum lagi sinyalemen peran “puppet master” di balik aksi mahasiswa, hingga melahirkan jargon mutakhir dalam politik Indonesia kontemporer, yakni “sontoloyo”. Berikut beberapa kawan Kampus para pengurus BEM yang duduk bersama dalam forum BEM Seluruh Indonesia yang digelar di Wisma Diklat Bina Marga, Bandung, 11-13 Juli lalu, memberikan opininya.

Khairurrizqo, Divisi Luar Negeri BEM Unsoed

SOAL gerakan mahasiswa yang mengandung kekerasan, kami agak rugi juga sebenarnya. Hanya karena aksi segelintir elemen, namun masyarakat melihatnya umum. Mahasiswa semuanya jelek, padahal kan tidak. Setiap elemen memang berhak untuk punya metode sendiri, tapi masalahnya kadang tidak melihat jalannya aturan. Tetapi dapat dimengerti bahwa itu bagian dari kekecewaan masyarakat. Mahasiswa kan indikator suhu masyarakat. Kalau mahasiswanya suhunya naik, berarti masyarakatnya sudah mengharapkan sesuatu yang lebih baik lah.

Abustomih, Ka.Dept.Sospol BEM UNJ Jakarta

TENTANG aksi kekerasan, gerakan mahasiswa jadinya dikategorikan hanya satu, padahal tidak demikian. Aksi seperti itu menurut saya muncul akibat akumulasi agregasi gerakan mahasiswa yang sudah kalut. Beberapa teman sudah mulai kehilangan arah. Kalau di negara lain, gara-gara aksi, pemimpinnya bisa mundur. Kalau di Indonesia, gara-gara kelaparan atau mahasiswa sampai aksi jahit mulut, itu kayak enggak ngaruh. Mahasiswa sering tak diacuhkan. Kesimpulannya, mereka yang di eksekutif, legislatif, yudikatif, kebijakan mereka yang tidak prorakyat jauh lebih vandalis daripada aksi yang dilakukan mahasiswa. Seharusnya memang gerakan mahasiswa, tidak mengedepankan vandalisme, akan tetapi lebih pada memberi solusi. Banyak hal bisa dilakukan, misalnya, diskusi di pojok kampus, menulis artikel di media massa, pewacanaan lewat seminar.

Hariyono, anggota BEM Universitas Tanjungpura Kalbar

AKSI sebenarnya bagus, memperjuangkan hak-hak rakyat. Mahasiswa merasa terpanggil untuk tidak diam saja. Memang aksi anarkistis itu rentan terhadap kritik dan kepentingan, namun bagaimana aksi mahasiswa agar tidak dipolitisasi oleh kepentingan. Soal ditunggangi itu sih tidak dimungkiri. Mungkin ada, namun kita berharap BEM SI jangan begitu. Aksi-aksi sendiri kan banyak. Di Kalbar sendiri juga banyak. Namun ekspos media agak kurang, hanya masuk media lokal, bukan media nasional, padahal isunya besar.

Gena, Presiden BEM Kema Unpad

BEM SI tidak pernah punya iktikad sekalipun untuk aksi semacam itu yang kontraproduktif. Kita mencoba membuat solusi konkret, bukan hanya struktural, tetapi kultural juga. Sehingga masyarakat bisa melihat bahwa mahasiswa nggak hanya aksi saja. Di BEM SI sendiri, intinya ada dua poin, yaitu, soft movement dan powerful movement. Kalau soft movement, seperti sekolah antikorupsi, program bina desa sebagai community development, dsb. Masalahnya, banyak hal kreatif yang dilakukan mahasiswa tapi tidak terekspos masif oleh media massa. Yang diekspos malah aksinya, aksinya yang rusuh pula. Aparat juga sudah punya frame kalau aksi mahasiswa itu pasti chaos.

Maulana Muhammad, Presiden BEM USTJ Papua

KALAU aksi mahasiswa semuanya simpatik kok. Kalau mengganggu ketertiban umum, sepertinya yang lebih terganggu selama ini yang lebih sengsara adalah umumnya. Di Papua sendiri, 36 tahun bergabungnya Papua tidak membuat Papua maju secara signifikan, tetapi pusat yang lebih kuat. Aksi mahasiswa yang mengandung vandalisme itu wajar. Ketika pemerintah tidak bisa mengimplementasikan yang dijanjikan, wajarlah rakyat berteriak. Pemerintah seakan buta tuli. Di lapangan sendiri, aparat sebagai mesin negara juga jadi pemicu. Kita kalau gerakan di Papua, pengamannya dengan persenjataan lengkap, seperti kita adalah teroris.

Hendra Gunawan, Presiden BEM Universitas Riau

SEBENARNYA yang kita bela pada hari ini kan rakyat. Kalau kemudian dengan aksi yang ternyata terjadi adalah rakyat tidak simpati, nanti rakyat jadi bertanya, apa yang dibela? Aksi yang destruktif, namanya juga di lapangan semua bisa terjadi. Ada pemicu, bisa juga dari aparat, bisa juga dari para demonstran. Tapi walau pemerintahan sangat bebal, ketika kita tidak menyampaikan aspirasi dengan santun, kita kan sama juga dengan mereka yang kita protes. Aksi kita harus didukung data ilmiah, bukan asal-asalan.***

dewi irma
kampus_pr@yahoo.com

Posted by: abustomih | 8 August 2008

Mengawal Perwujudan “Tugu Rakyat”

BEM SI (Badan Eksekutif Mahasiswa Seluruh Indonesia) mengusung Tujuh Gugatan Rakyat (Tugu Rakyat) sebagai refleksi 10 tahun reformasi yang dinilai gagal. Akankah sekadar menjadi barisan poin tuntutan? Bagaimana aksi nyata yang dilakukan?

Puluhan pengurus Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) dari berbagai perguruan tinggi di Indonesia mengikuti forum BEM SI di Wisma Diklat Bina Marga Jln. L.L.R.E. Martadinata Bandung, 11-13 Juli 2008. Forum ini membahas permasalahan negeri ini yang mendesak untuk segera diselesaikan. Acara yang dihadiri perwakilan dari 36 BEM berbagai kampus itu menghasilkan kesepakatan untuk tetap teguh mengusung Tugu Rakyat.

Apa itu Tugu Rakyat? Tugu Rakyat berisi 7 buah tuntutan, nasionalisasikan aset-aset strategis bangsa, mewujudkan pendidikan dan pelayanan kesehatan yang terjangkau bagi rakyat, tuntaskan kasus BLBI dan korupsi Soeharto beserta kroninya, kembalikan kedaulatan bangsa pada sektor pangan, ekonomi, dan energi, jamin ketersediaan dan keterjangkauan harga kebutuhan pokok bagi rakyat, tuntaskan reformasi birokrasi dan berantas mafia peradilan, dan juga selamatkan lingkungan dan tuntaskan kasus Lapindo Brantas.

Sikap itu dilontarkan atas hasil konferensi BEM SI sebelumnya yang digelar di Depok pada 21 – 23 Maret. Dengan tuan rumah penyelenggara Keluarga Mahasiswa (KM) ITB, kali ini agenda forum di Bandung ialah mengevaluasi kinerja BEM SI dan menentukan orientasi gerakan.

Dalam forum selama tiga hari itu, ruangan seminar Wisma Diklat Bina Marga dipenuhi oleh mahasiswa dengan berbagai warna jas almamater. Tidak ada pakar yang menjadi pemateri, sebab forum berbentuk seperti rapat besar untuk membahas rencana-rencana strategis.

Dalam pernyataan BEM SI, diungkapkan bahwa sepuluh tahun pascareformasi 1998, tidak banyak membuahkan perubahan ke arah lebih baik di masyarakat, baik dari segi politik, ekonomi, maupun sosial. Rakyat tetap menjadi objek kekuasaan yang didekati saat pemilu, dan dilupakan setelah kekuasaan baru disahkan. Itu terlihat dari tidak terlaksananya agenda-agenda reformasi yang dulu digembar-gemborkan.

Namun, reformasi belum selesai. Dituturkan Budiyanto, Koordinator Pusat BEM SI, reformasi harus tetap dilanjutkan karena substansi reformasi belum tercapai. Forum itu pun menjadi salah satu upaya merapikan gerakan BEM tanah air dalam menyikapi keberlanjutan reformasi.

**

BEM SI merupakan aliansi dari BEM yang ada di Indonesia. Gerakan ini muncul sejak awal era reformasi. Kala itu, aliansi masih berbentuk aliansi taktis, dan belum memiliki struktur yang bergerak berdasarkan isu sosial, politik, dan ekonomi yang terjadi di masyarakat. “Gerakan mahasiswa dulu kan terkenal terfragmentasi. Isu-isu yang dibangun tidak terstruktur rapi. Jadi, ada baiknya kita bersatu dan menetapkan isu utama,” kata Sigit Nursyam Priyanto, Presiden BEM Republik Mahasiswa (Rema) UNY pada Kampus. BEM KM UGM menjadi koordinator pusat BEM SI untuk masa kepengurusan mulai 24 Desember 2007 s.d Oktober 2008.

Tugu Rakyat berawal dari pertemuan BEM SI di UNY, November 2007. Ketika itu, isu-isu kemanusiaan berbarengan dengan peringatan tsunami dan banyaknya bencana alam yang terjadi di berbagai daerah, menjadi sorotan. Pertemuan dilakukan kembali di Kampus IPB, hingga akhirnya bulan Maret lalu, BEM SI berhasil merumuskan Tugu Rakyat di Kampus UI.

Kekecewaan mahasiswa pada kinerja pemerintah melatarbelakangi munculnya tuntutan itu. Selama hampir empat tahun kepemimpinan SBY-JK, evaluasi sementara dari beberapa pegiat BEM yang hadir dalam forum BEM SI itu ialah pemerintah gagal menjalankan fungsinya untuk menyejahterakan rakyat. Kegagalan pemerintah dalam menstabilkan harga bahan-bahan pokok merupakan salah satu bukti nyata bahwa kebijakan-kebijakan pemerintah selama ini belum berpihak kepada rakyat. Belum lagi permasalahan lain, seperti banyaknya sumber daya yang dijual kepada asing, pendidikan yang belum merdeka karena pemerintah tidak mampu merealisasikan anggaran memadai, munculnya masalah kesehatan yang memprihatinkan seperti penyakit busung lapar, belum lagi kasus korupsi yang sistemik dan menggurita.

Dengan kondisi itu, amat diperlukan adanya gerakan yang rapi dan masif dari mahasiswa sebagai lokomotif perubahan. “Tugu Rakyat skala permasalahannya bersifat nasional, namun bisa disesuaikan kembali dengan permasalahan di tingkat lokal,” ucap Budiyanto, yang juga menjabat sebagai Presiden BEM UGM. Kawan-kawan pegiat BEM Unsoed, misalnya, akan banyak menyoroti kesejahteraan petani. Atau, pegiat BEM di Riau yang akan memberi perhatian lebih besar pada maraknya kasus illegal logging.

Dituturkan Abustomih dari BEM UNJ Jakarta, gerakan yang akan dikembangkan oleh BEM SI bersifat dua macam, yakni, long term dan short term. Untuk short term, BEM SI berencana menggelar simposium untuk merumuskan kembali rasionalisasi Tugu Rakyat, Oktober mendatang. Menjelang itu, BEM SI akan terus melakukan long march aksi penyampaian tuntutan.

Program long term sendiri, di antaranya berupa membuat program community development berbentuk desa binaan dan menggelar sekolah pendidikan politik dan antikorupsi. “Terdiri 11 teritori dengan 200 BEM itu diwajibkan memiliki desa binaan untuk diarahkan menjadi desa mandiri,” kata Abustomih. Beberapa BEM telah memulai, di antaranya, BEM UGM dengan desa Imogiri, BEM Kema Unpad dengan desa Cilayung, dsb.

Pendidikan antikorupsi dengan menyasar pada pelajar SMU pun akan disebarkan menyeluruh ke berbagai wilayah. “Kita teken kontrak dengan Komisi Pemilihan Umum (KPU) dan Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) untuk ikut memberikan materi, nanti digerakkan masif ke daerah,” kata Gena, presiden BEM Kema Unpad. Selain itu, masih ada lagi agenda BEM SI lainnya, seperti menggelar lomba penulisan karya ilmiah, forum untuk menilai kebijakan pemerintah, hingga membuat buku hasil rangkuman simposium dan mendistribusikan buku itu ke berbagai perguruan tinggi.

Dikatakan Gena, aksi mahasiswa bukan hanya orasi dan demonstrasi. Kini yang lebih banyak dibutuhkan adalah bergerak pada lahan yang benar-benar riil dan memberikan efek nyata untuk masyarakat. Pada waktu-waktu tertentu, tetap diperlukan gerakan turun ke jalan, namun demikian aksi konkretlah yang kini lebih dibutuhkan masyarakat. “Dan kita ingin media massa juga mengekspos gerakan kreatif mahasiswa. Jangan hanya demo yang diliput, apalagi yang ricuhnya saja. Itu akan menggiring publik pada stigma gerakan mahasiswa yang chaos, padahal tidak semua begitu,” kata Gena.

Salah satu yang menarik, semakin marak kesadaran atas perlunya mengedepankan nuansa intelektual ketika bergerak dalam menuntaskan perubahan. Gerakan mahasiswa harusnya jauh dari kekerasan, mengingat gerakan ini bermuara dari kalangan akademisi yang cenderung mengedepankan rasionalitas dalam menyikapi pelbagai permasalahan. Tak perlu lagi ada hal-hal tidak relevan seperti perusakan, yang secara tidak langsung telah mencoreng citra intelektualitas mahasiswa di mata masyarakat.

“Harusnya gerakan mahasiswa tidak mengedepankan vandalisme, akan tetapi lebih pada memberi solusi dan gerakan yang mengedepankan moral dan intelektual,” kata Abustomih, mahasiswa FMIPA UNJ 2004.

Tentang adanya isu gerakan mahasiswa ditunggangi, Gena yang juga mahasiswa dari Fikom Unpad 2004 ini sadar bahwa gerakan mahasiswa terdiri dari berbagai elemen, akan tetapi dirnya meyakini BEM SI bersih, artinya tidak ditunggangi siapa pun. Dikatakan Gena, Tugu Rakyat sendiri bicara atas nama kepentingan rakyat. “Memang suka serbasalah. Ketika kami mengevaluasi pemerintah, nanti dituduh ditunggangi oleh mereka yang tak suka SBY, tapi kalau tidak mengevaluasi nanti dituduh ditunggangi SBY. Namun kita berupaya me-manage diri agar tetap bersih.”

Menyoal hubungan BEM SI dengan organisasi non-BEM lainnya, dikatakan Budiyanto, tidak akan segan bergabung dengan gerakan lain, jika memang sesuai dengan isu Tugu Rakyat. “Asal tidak kontraproduktif dengan gerakan yang sudah dibangun, kita terbuka dengan berbagai aliansi di luar sana,” kata Budiyanto.

Sampai sejauh ini Tugu Rakyat masih terus disempurnakan dengan rasionalisasi turunan sikap-sikap yang harus dikerjakan, dan diharapkan dapat segera selesai, dan juga cepat bisa ditandatangani oleh pemerintah. “BEM SI tidak ingin sekadar menuntut, kami juga memberikan rekomendasi saran berdasarkan kajian,” kata Budiyanto. Sejauh ini, BEM UGM dan BEM UI adalah beberapa BEM yang sudah mulai membuat post paper ratusan halaman berisi langkah strategis yang harus dilakukan pemerintah.

Pada akhirnya, hanya menuntut akan sulit memberi perubahan nyata bagi rakyat. Yang dibutuhkan kini ialah solusi-solusi konkret dalam proses kebangkitan negeri. Komitmen yang diutarakan BEM SI tak ubahnya sebuah angin segar bagi kita, dengan harapan bisa menjadi titik tolak pergerakan mahasiswa ke depan ke arah yang lebih baik. “Semoga stamina gerakan tetap terjaga dalam mengawal Tugu Rakyat,” kata Budiyanto. ***

dewi irma
kampus_pr@yahoo.com

Posted by: abustomih | 8 August 2008

TUGU RAKYAT : Kembalikan Kedaulatan Rakyat!

“yang kumaksud disini adalah menjadi pemuda dengan retorika sehebat soekarno, intelektualitas sedalam hatta,dengan kecerdasan sjahrir, heroisme Bung Tomo, ketangguhan sudirman, kebijaksanaan hamka, seperti itulah pemuda seharusnya…”

Salam pemberontakan intelektual,

Risalah ini kutujukan untuk rekan-rekan mahasiswa seperjuangan di bumi Allah. Kutulis dengan iringan tangisan rakyat kecil yang menyayat hati. Ku lukiskan tarian jiwa diatas kertas putih ini bersama naungan cinta dan kasih sayang seorang mahasiswa kepada pemimpinnya. Karena tiada maksud melukai perasaan namun jiwa terpanggil menyerukan pemberontakan atas tiran dan kezhaliman.

Kondisi bangsa hari ini

Indonesia adalah ladang permata, zamrud khatulistiwa. begitu biasanya Negara lain menyebut Indonesia. Karena memang begitu adanya. jumlah cadangan migas Indonesia merupakan salah satu yang terbesar di kawasan asia pasifik, sumber daya mineral yang melampui imaji para investor yang membuat investor merasa seperti di surga dunia jika mengseksplorasi kekayaan Indonesia. Ini yang kemudian membuat Freeport memperpanjang kontrak kerja sama sampai 200 tahun lamanya. Bagaimana tidak nilai Corporate social responsibility (dana CSR PT Freeport) yang dishare dengan warga sekitar sebesar 0,1% saja mencapai 80 milyar pertahun. Bisa kita prediksi keuntungan bersih perusahaan asing yang telah puluhan tahun mengeruk bukit-bukit di papua itu menjadi danau saat ini. Bukan hanya itu kerusakan ekologis yang ditimbulkan oleh pengerukan kekayaan mineral Indonesia ini menurut harian New York Times 27 desember 2005, volume buangan limbah Freeport sudah dua kali lebih besar dibandingkan kedukan terusan Panama. Atau dengan kata lain mampu menutupi kota Jakarta, Depok dan Bekasi dengan 5 meter lumpur beracun. Kondisi ini bahkan membuat dana pensiun pemerintah Norwegia menarik investasi di PT Freeport senilai 2,16 triliun. Alasannya karena Freeport telah menghancurkan ekologi papua.

Pertanyaannya sekarang Negara macam apa kita? Pemerintahan seperti apa yang kita punya? Bagaimana mungkin Negara nan jauh disana saja merasa tidak mau ikut berinvestasi pada penghancuran alam Negara ini, akan tetapi pemerintah kita seolah tutup mata, tuli dan bisu. Kontrak PT Freeport baru akan habis pada 2041. Dimana menurut Ahli pertambangan ketika itu yaitu Prof. Subroto dan Prof. Sadli bahwa dalam kontrak karya I Indonesia-Freeport terdapat paragraf-paragraf rahasia yang tidak boleh diketahui pihak luar, bahkan oleh DPR-RI. Bukankah ini penghinaan terhadap kedaulatan bangsa ini? Bagaimana mungkin ada Negara di dalam Negara?

Kondisi diatas hanyalah bagian yang amat kecil jika dibandingkan bahwa saat ini 80-90 % aset-aset strategis bangsa ini dikuasai oleh pihak asing. Aset-aset strategis kawan!! Bagaimana mungkin Negara ini berdaulat diatas kekuaasaan dan penguasaan asing pada aset-aset yang menyangkut hajat hidup orang banyak. Ini jelas pelanggaran berat terhadap UUD 1945 pasal 33 bahwa segala sesuatu yang menyangkut hajat hidup orang banyak harus dikuasai Negara, tetapi apa kenyataannya hari ini bahkan dibidang komunikasi dan informasi saja kita tak berdaulat, mau kemana bangsa ini dibawa kawan?

Selain kondisi pertambangan mineral kita harus juga mengetahui bahwa jika 90% lebih sumber energi kita dikuras asing, maka secara rasional berapa lama Negara kita akan mampu bertahan secara ekonomi? Seberapa bebas keputusan politik bisa diambil para pemimpinnya? Dan yang lebih memprihatinkan lagi seberapa mahal harga yang harus dibeli oleh rakyatnya, dari harga BBM, TDL, sampai tariff jalan tol? Tahukan kalian bahwa harga minyak tanah per agustus 2008 untuk satu liter mencapai Rp. 9000 ini jauh melambung dibanding harga bensin, padahal kita tahu siapa konsumen terbesar minyak tanah. Program konversi minyak ke gas yang setengah hati dan kurang persiapan mengakibatkan gas menjadi langka di pasaran sedang disatu sisi para pedagang dan ibu rumah tangga miskin kelimpungan membeli dan mencari minyak tanah yang melangit harganya. Ayolah kawan buka mata.ini nyata ada di depan mata.lalu apa sikap kita?

Tuntutan kita jelas Kembalikan kedaulatan Indonesia! Indonesia yang mandiri bebas dari intervensi asing. Negara yang utuh merdeka dengan sebenar-benarnya merdeka. Rakyat yang dapat terpenuhi kebutuhan primernya. Negara yang manjadi milik publik bukan oligarki penguasa yang pengusaha atau pengusaha yang penguasa.

Gerakan mahasiswa harus mampu menekan pemerintah untuk meninjau kembali kontrak karya migas dan aset strategis lain jika rakyat kecil ingin benar-benar diselamatkan. Angka kemiskinan berdasar lembaga dunia menempatkan 60% rakyat Indonesia tergolong berada dibawah garis kemiskinan dengan asumsi 2 dollar amerika perkapita. Negara-negara tetangga telah lama meninggalkan kita kawan.

Gerakan mahasiswa yang konstruktif cerdas dan solutif amat dibutuhkan untuk kondisi saat ini. Gerakan perlawanan terhadap kebijakan yang menyengsarakan rakyat harus terus digulirkan disemua basis-basis perlawanan. sinergi antar gerakan mahasiswa harus segera dilakukan, peningkatan komunikasi dengan serikat-serikat buruh, LSM dan semua elemen bangsa yang peka terhadap kondisi Indonesia yang diambang kehancuran atau State Failure.

Ayo lawan kawan-kawan!!!

Diam adalah kebodohan, ketidak pedulian adalah kematian sedang mundur adalah bentuk lain terhadap pengkhianatan. Mana intelektualitasmu sebagai mahasiswa? Mana keberanianmu sebagai pemuda?

Buktikan Dirimu ada dalam derak langkah perjuangan rakyat!

Hidup Rakyat Indonesia! Hidup mahasiswa!

Buktikan dirimu ada dengan perlawananmu!

Salam Pemberontakan Intelektual

Brigade Green Force 2008

Abustomih

Posted by: abustomih | 23 December 2007

Mukadimah

Abustomih

Abustomih

seolah tak bergeming dalam kerinduan akan karya anak bangsa dalam membangun bangsa ini menuju cita-citanya yang mulia dan abadi yakni menuju indonesia yang adil dan sejahtera.

seakan kaki ini tak lelah meski harus berpeluh luka dan berderak tak henti. semangat seorang pemuda di hari ahad petang sambil bermetafora dengan sesenduan angin perubahan yang pasti lahir dari jiwa-jiwa baru.

sebuah mimpi tentang hadirnya anasir-anasir tangguh yang tengah mempersiapkan diri di dunia tak terjamah yakni dunia pergerakan hati. sebuah entitas metamaya yang tumbuh berkembang tanpa di sadari oleh para angkuh di istana riang.bertembok putih di seberang monumen kebanggaan.

sebuah janji dari hati bahwa diri ini akan menjadi batu bata dalam istana peradaban indonesia yang mulia yang berpilarkan semangat dan asa para pemuda dan kebijaksanaan para pemimpin dan pemangku kebijakan.

tunggulah saatnya sebuah waktu yang tak terlalu lama dari hari ini, perlahan semua akan berganti, seperti sehabis hujan berderai pelangi seperti malam yang kembali bersinar dengan bintang terindah di bulan desember.

« Newer Posts

Categories