Posted by: abustomih | 26 September 2008

Paradoks Demokrasi Popularita

J KRISTIADI

The country has all the ingredients for success:

a stable democracy, a wealth of natural resources

and a large consumer market.

But Indonesia is not keeping pace with Asia's booming economies.

Majalah ”Time” edisi 12 September, 2008)

Kutipan dari artikel Michael Schuman di majalah Time di atas mewakili kegetiran rakyat Indonesia. Bangsa Indonesia memiliki semua persyaratan untuk berhasil: demokrasi yang stabil, kekayaan alam yang melimpah, serta pasar yang besar. Akan tetapi, sayangnya Indonesia tidak melesat sejalan dengan laju pertumbuhan ekonomi Asia.

Justru sebaliknya, rakyat merasakan impitan kemiskinan yang kian menindih. Ada anggota masyarakat yang bertahun-tahun mengonsumsi daging sisa-sisa makanan hotel dan restoran yang dimasak bercampur zat pewarna tekstil. Bahkan, ada anggota masyarakat yang benar-benar secara harfiah mengonsumsi sampah buah dan sayuran di tempat pembuangan kotoran.

Sementara di Senayan, terbetik berita para wakil rakyat selain mengantre disuap, berkubang di tengah hujan duit (cek) bernilai ratusan juta, bahkan mungkin miliaran rupiah.

Tragedi yang sangat menyayat hati ini seharusnya membuka mata hati dan nurani para elite politik agar segera bertobat dan berhenti memburu kenikmatan di atas penderitaan rakyat.

Ungkapan yang menyatakan tidak ada asap tanpa api menjadi semakin valid dengan terbongkarnya skandal dan aib yang selama ini dicoba disembunyikan rapat-rapat. Aroma busuk transaksi politik di Senayan, baik itu dalam bentuk uji kepatutan dan kelayakan, dengar pendapat dengan departemen terkait, maupun proses membuat undang-undang, semakin menyengat baunya.

Harapan untuk meningkatkan kualitas para wakil rakyat pada Pemilu 2009 tampaknya tidak besar. Proses perekrutan politik untuk menentukan kandidat anggota parlemen mulai dari tingkat pusat sampai daerah hanya memperkuat bangunan oligarki dan dinasti politik.

Nilai-nilai luhur yang melekat dalam tatanan demokrasi, terutama asas persamaan warga negara, menjadi porak poranda karena amukan badai nafsu untuk mewujudkan ambisi kekuasaan. Mereka yang mempunyai ”darah biru” baik secara biologis-geneologis maupun hubungan patron-klien, memiliki privilese dan derajat lebih tinggi dibandingkan dengan anggota masyarakat lainnya.

Perekrutan politik dilakukan tanpa prinsip meritokrasi dan sangat kental dengan pertimbangan mediokriti (mediocre). Kursi wakil rakyat akan diisi oleh anak, adik, keponakan, dan kerabat para petinggi parpol, pejabat pemerintah, mulai dari presiden, mantan presiden, menteri, hingga pemimpin lembaga tinggi negara. Mereka akan menentukan nasib negara dan bangsa.

Para petinggi partai juga tidak segan-segan memanfaatkan atau menyalahgunakan kepopuleran seseorang meskipun sangat miskin pengalaman. Upaya lain adalah membuat program pencitraan seseorang agar seakan-akan menjadi humanis, peka terhadap penderitaan rakyat, dan berperilaku manis agar dikenal masyarakat.

Hampir dapat dipastikan proyek pencitraan itu tidak dapat menghasilkan kandidat yang mempunyai komitmen terhadap penderitaan rakyat. Popularitas hanya dijadikan daya tarik palsu untuk mencari simpati rakyat.

Namun, sejalan dengan tingkat perkembangan kesadaran politik masyarakat, sebagian publik tidak mudah lagi terkecoh dengan segala hal yang populer.

Kekalahan beberapa kandidat kepala daerah yang dianggap cukup populer, seperti Helmy Yahya, Qomar, Dicky Chandra, dan Syaiful Djamil, merupakan petunjuk bahwa eforia politik pencitraan yang melekat pada demokrasi prosedural sudah sampai ke titik jenuh.

Gejala tersebut juga mulai menegaskan bahwa sekadar populer tidak selalu berkorelasi dengan elektabilitas. Masyarakat semakin matang. Masyarakat juga tidak mudah lagi takluk dengan intimidasi dan tergiur oleh operasi serangan fajar dengan amunisi sembako atau sejenisnya.

Pengalaman tersebut mudah-mudahan semakin menyadarkan pemimpin partai politik kalaupun mencalonkan seseorang yang populer harus disertai dengan persyaratan lainnya. Misalnya, rekam jejak prestasi dan kepedulian terhadap keprihatinan masyarakat, gigih memperjuangkan nasib kaum yang termarjinalkan, hak-hak perempuan, buruh, dan budaya multikultural.

Oleh sebab itu, partai-partai politik harus melanjutkan kaderisasi yang memihak pada kepentingan rakyat serta pemerintahan yang bersih. Parpol tak bisa lagi sekadar memoles orang tanpa bekal yang memadai.

Ranah politik adalah medan perjuangan yang memerlukan investasi jangka panjang untuk menghasilkan kader-kader yang andal. Ibaratnya seperti menanam pohon jati yang kokoh dan kuat, bukan menanam pohon jagung atau pohon pisang yang hanya beberapa bulan berbuah, tetapi kemudian terus mati.

Posted by: abustomih | 13 September 2008

puisi jiwa pengantar tidur

untuk kamu yang terlelap dalam lelah dan asa

untukmu yang berbaring dalam balutan malam yang meneduhkan

selamat istirahat wahai peneduh jiwa

semoga esok pagi menghangatkanmu dengan surya

dan malam ini biarlah rembulan meniupkan kantuk dan membelaimu

kala tubuhmu terlelap dalam syahdunya malam ramadhan

Posted by: abustomih | 11 September 2008

Invitasi dari UNJ, DISKUSI MIGAS

DISKUSI PUBLIK

Tema: “reformasi kebijakan energi dan pengelolaan energi nasional
untuk kesejahteraan rakyat”

keynote : Ir. Marwan Batubara M.Si. (DPD RI – KPKN)

1. Dirjen MIGAS ESDM Dr. Evita Legowo (pemerintah)
2. Ikhsanuddin Noorsy (Pengamat politik dan ekonomi)
3. Pengamat Perminyakan Dr. Kurtubi (Akademisi)
4. Anggota Komisi VII Ir. Tjatur Sapto Edy (Parlemen)
5. Reforminer Institute Dr. Pri Agung Rahmanto (LSM)
6. Presdir PT MEDCO Power Indonesia Ir. Fazil E. Alfitri (Profesional)

FREE OF CHARGE

KAMIS 18 September 2008. bertempat di Aula Perpustakaan UNJ Lt.1
jl.rawamangun muka no. 1 jakarta timur.
kegiatan berlangsung dari pkl 13.00-18.30

kegiatan akan di lanjutkan dengan
1. BAKTI SOSIAL UNJ BERBAGI DENGAN ANAK YATIM PIATU RAWAMANGUN
2. Buka Puasa Bersama Teritori III BEM SI.

Mohon calon partisipan Konfirmasi kehadiran.karena tempat terbatas.

registrasi via email atau SMS
SMS: Eman 0856 7245 222 (koord. Pusgerak Green Force BEM UNJ)
Email : seoborgium@… atau ravacevic@…
registrasi akhir 17 september 2008 pukul 18.00

regards.

Abustomih

Mensospol BEM UNJ

Posted by: abustomih | 7 September 2008

sebuah persembahan…

Kami memahami, bahwa bangsa dan negara ini sedang menangis, rakyatnya kelaparan, hartanya dijarah, dan kekayaannya dicuri. Ia membutuhkan pahlawan-pahlawan yang mampu membawa perubahan dan perbaikan, orang-orang yang mau merebut takdirnya sebagai pahlawan negeri ini. Karenanya kami bertekad untuk menjadi bagian dari jalan perbaikan, jalan perjuangan.

Kami menyadari, bahwa perenungan saja tidak cukup, kesedihan berkepanjangan tidak berguna, bahkan jerit tangis sia-sia. Ia membutuhkan gerakan dan kontribusi yang nyata, tidak hanya sekedar retorika belaka. Maka kami bergerak, sepenuh hati untuk memberikan kontribusi, tanpa peduli seberapa besar hasilnya. Karena yang kami inginkan hanyalah berusaha, bekerja, dan memberikan yang terbaik yang kami bisa.

Kami mengetahui, bahwa jalan ini sangat panjang, bahkan menembus rentang usia dan waktu yang kami punya. Di dalamnya ada banyak cobaan dan godaan yang mampu menyakitkan dan memalingkan hati, melelahkan fisik kami yang penuh keterbatasan, bahkan berkali-kali membuat air mata kami mengalir. Karenanya kami bersatu dalam ikatan persaudaraan. Kami bersaudara untuk saling mengingatkan, menguatkan, dan meneguhkan.

Kami meyakini, bahwa dunia hanyalah sementara. Popularitas, pujian, harta benda, bukanlah harga yang pantas bagi perjuangan kami. Perjuangan ini tidak layak dikotori oleh keinginan dan ambisi pribadi. Oleh karena itu, kami mengikhlaskan hati, hanya untuk Ridho Ilahi.

Kami menginsafi, bahwa perjuangan tak bisa dilaksanakan dengan setengah hati, setengah tenaga, setengah perhatian. Ia membutuhkan komitmen, konsistensi, dan kesetiaan. Oleh karenanya, kami menanamkan dalam hati, untuk totalitas dalam berjuang.

Kepada Tuhan, bangsa, negara, dan tanah air yang kami cintai.
Kami Persembahkan.

abustomih

abustomih

Mahasiswa dengan kegagahan intelektualitasnya, ketegaran jasmani dan mentalitasnya yang pantang menyerah merupakan berkah bagi bangsa yang tengah dirundung duka ini. Peran pemuda terhadap bangsa yang menuju kehancuran ini merupakan peran yang sangat vital yang tidak bisa digantikan oleh siapapun entitas dinegara ini.

Peran pertama adalah menjadi inisiator perubahan,

mahasiswa adalah pelopor kebangkitan yang nyata berkontribusi tak kenal lelah memanifestasikan diri dalam derak langkah perubahan bangsa ini, ditiap perubahan maka mahasiswa adalah pengibar gagasannya.

Peran kedua adalah sebagai galvanisator pergerakan,

perubahan membutuhkan pergerakan, mau berubah berarti harus bergerak. Untuk bergerak dibutuhkan mesin-mesin yang siap melaju dan membangkitkan negara ini dari keterpurukannya dengan aksi-aksi nyata dilapangan merekalah yang menjadi galvanisator pergerakan, karena ditiap gagasan maka merekalah pelaku sejarahnya

peran ketiga sebagai arsitek peradaban,

mereka adalah manusia-manusia cerdas yang mampu membuat rancang bangun peradaban indonesia menuju indonesia yang di cita-citakan yakni indonesia yang adil makmur dan sejahtera. Mereka siap dengan konsep terumit dan langkah-langkah strategis dalam membina derak langkah perjuangan yang berkesinambungan dengan visi besar yang mereka gagas.

“jika keringat, darah dan air mata ini mampu membuat peradaban ini menjadi lebih baik, maka kami mahasiswa indonesia siap melepaskan jiwa dengan senyum yang paling menawan…”

abustomih

abustomih

Posted by: abustomih | 19 August 2008

diantara berjuta cinta

Kehidupan ini rasanya tak pernah dapat dilepaskan dari apa yang dinamakan ‘cinta’. Dengannya menjadi semarak dan indah dunia ini. Lihat saja, bagaimana seorang bapak begitu bersemangat dalam beraktivitas mencari nafkah, tak lain karena dorongan cintanya terhadap anak dan isterinya. Seorang yang lain pun begitu semangatnya menumpuk harta kekayaan, karena sebuah dorongan cinta terhadap harta benda, demikian pula mereka yang cinta kepada kedudukan, akan begitu semangat meraih cintanya.
Itu semua adalah beberapa contoh dari berjuta cinta yang ada. Meskipun kesan yang banyak dipahami orang tentang cinta, identik dengan apa yang terjadi antara seorang pemudi dan pemuda. Padahal cinta tak hanya sebatas itu saja.

Ternyata masalah cinta memang tidak sederhana. Ada cinta yang bernilai agung lagi utama, namun ada pula cinta yang haram dan tercela. Cinta sendiri kalau dilihat menurut islam, maka dapat dikategorikan menjadi tiga bentuk. Kita semestinya tahu tentang model cinta tersebut untuk kemudian mampu memilih mana cinta yang mesti kita lekatkan di hati, mana pula cinta yang mesti kita tinggalkan sejauh-jauhnya.

Cinta kepada Allah
Cinta model ini adalah cinta yang paling utama. Bahkan kata ulama kita, cinta kepada Allah adalah pokok dari iman dan tauhid seorang hamba. Karena memang Allah sajalah satu-satunya dzat yang patut diberikan rasa cinta.
Segala cinta, kalau kita buat peringkat maka nyatalah bahwa cinta kepada Allah adalah puncaknya. Ia adalah yang tertinggi, paling agung dan paling bermanfaat. Begitu bermanfaat cinta kepada Allah ini, sehingga tangga-tangga menuju kepadanya pun merupakan hal-hal yang bermanfaat pula. Diantaranya berupa taubat, sabar dan zuhud. Apabila cinta diibaratkan sebuah pohon maka ia pun akan menghasilkan buah-buah yang bermanfaat seperti rasa rindu dan ridha kepada Allah.

Mengapa kita mesti cinta kepada Allah ? banyak sekali alasannnya. Diantaranya adalah karena Allah lah yang memberikan nikmat kepada kita, bahkan segala nikmat. Sedangkan hati seorang hamba tercipta untuk mencinta orang yang memberikan kebaikan kepadanya. Kalau demikian, sungguh sangat pantas apabila seorang hamba cinta kepada Allah, karena Dialah yang memberikan semua kebaikan kepada hamba.

“Dan apa-apa nikmat yang ada pada kalian , maka itu semua dari Allah”
(QS Al Baqarah : 165)

Seorang hamba di setiap pagi dan petang, siang dan malam selalu berdoa, memohon dan meminta pertolongan kepada Allah. Dari doa tersebut kemudian Allah memberikan jawaban, menghindarkan hamba dari bahaya, memenuhi kebutuhan hamba tadi. Keterikatan ini mendorong hati untuk mencinta kepada dzat tempat ia bermohon.

Setiap insan pun tak lepas dari dosa dan kesalahan, maka Allah selalu membuka pintu taubat kepada hamba tadi, bahkan Allah tetap memberikan rahmah meski hamba kadang tidak menyayangi dirinya sendiri. Kebaikan-kebaikan yang dibuat hamba, tak ada sesuatu pun yang mampu diharap untuk memberi balasan dan pahala kecuali Allah semata.

Terlebih lagi, Allah telah menciptakan hamba, dari sesuatu yang tak ada menjadi ada. Tumbuh, berkembang dengan rizki dari Allah Ta’ala. Maka ini menjadi alasan kenapa hamba semestinya cinta kepada Allah.

Cinta memang menuntut bukti. Tak hanya sekedar ucapan, seperti pepatah orang arab ’semua orang mengaku punya hubungan cinta dengan Laila namun si Laila tak pernah mengakuinya’. Dan wujud cinta ilahi dibuktikan dengan

“Katakanlah apabila kalian cinta kepada Allah maka ikutilah aku (Rasulullah) maka Allah akan mencintai kalian dan mengampuni dosa-dosa kalian” (QS Ali Imran : 31)

mengikuti sunah nabi dan juga berjihad di jalan Allah Ta’ala.

Cinta karena Allah / cinta di jalan Allah
Cinta karena Allah tentu saja mengikuti cinta yang pertama. Seperti dalam kehidupan, ketika kita cinta kepada seseorang maka apa yang dicintai oleh orang yang kita cinta pun kita sukai pula. Cinta karena Allah adalah cinta kepada ‘person’ yang dicinta Allah seperti para nabi, rasul para sahabat nabi dan orang-orang shalih. Cinta karena Allah jua berujud cinta kepada perbuatan shalih seperti shalat, puasa zakat, berbakti kepada orang tua, memuliakan tetangga, berakhlaq mulia, menuntut ilmu syar’i dan segala perbuatan baik yang lain. Dengan demikian, ketika seoarng muslim mencinta seseorang atau perbuatan maka ia punya sebuah barometer “apakah hadir pada perbuatan maupun orang tadi hal yang dicinta Allah”. Bagaimana kita tahu kalau suatu perbuatan dicinta Allah? Jawabnya adalah, apabila Allah perintahkan atau diperintahkan Rasulullah berupa hal yang wajib maupun yang sunnah(mustahab).
Cinta yang disyariatkan diantaranya adalah cinta kepada saudara seiman

“Tidak beriman salah seorang diantara kalian sampai mencintai saudaranya sesama muslim sebagaimana mencintai dirinya sendiri” (HR Bukhari dan Muslim)

Cinta ini bermanfaat bagi pelakunya sehingga mereka layak mendapatkan perlindungan Allah di hari tiada perlindungan kecuali perlindungan Allah saja.

Cinta bersama Allah
Kecintaan ketiga ini adalah cinta yang terlarang. Cinta bersama Allah berarti mencintai sesuatu selain Allah bersama kecintaan kepada Allah. Membagi cinta, adalah model cinta yang ketiga ini. Kecintaan ini hanyalah milik orang-orang musyrik yang mencintai sesembahan-sesembahan mereka bersama cinta kepada Allah. Seperti firman Allah:
“Dan diantara manusia ada yang menjadikan selain Allah sebagai tandingan-tandingan, yang mereka mencintai tandingan tadi sebagaimana mencintai Allah. Adapun orang-orang yang beriman amat sangat besar cinta mereka kepada Allah “
(QS Al Baqarah : 165)

Kecintaan ini bisa ditujukan kepada pohon, berhala, bintang, matahari, patung , malaikat, rasul dan para wali apabila kesemuanya dijadikan sesembahan selain Allah.

Terus bagaimana cinta kita kepada anak, harta, pakaian, nikah dan kepada hal yang berhubungan dunia ? Cinta yang seperti ini adalah cinta yang disebut sebagai “cinta thabi’i” cinta yang sesuai dengan tabiat artinya wajar-wajar saja. Apabila mengikuti kecintaan kepada Allah, mendorong kepada ketaatan maka ia bermuatan ibadah. Sebaliknya bila mendorong kepada kemaksiatan maka ia adalah cinta yang tercela dan terlarang.

Posted by: abustomih | 19 August 2008

Mush’ab bin umeir

                                Utusan Sang Utusan

        Sepulang dari mengikat janji dengan RasuluLlah di lembah Aqabah, ummat 
Islam Yastrib segera pulang kembali ke kotanya dan mulai menyusun strategi 
da'wah yang akan diterapkan di Yastrib. Situasi "ipoleksus" Yastrib saat itu 
benar-benar memerlukan pemikiran dan kerja bersama untuk menghadapinya. Saat 
itu jalur ekonomi dan politik dikuasai oleh orang-orang Yahudi. Sistem riba 
yang diterapkan Yahudi sangat mengganggu roda perekonomian, dimana kesenjangan 
antara kaya dan miskin teramat kentara.

    Sementara itu kesatuan masyarakat Yastrib yang terdiri dari berbagai 
suku, selalu dalam kondisi terpecah dan saling curiga, ditambah dengan intrik-
intrik Yahudi yang selalu meniupkan rasa permusuhan di antara mereka. Opini 
umum saat itu juga dikuasai Yahudi. Kedaan diperparah dengan kepercayaan tradisi 
leluhur dan animisme yang membelenggu cara berpikir masyarakat. Singkatnya, 
jalan da'wah di Yastrib masih terasa teramat sulit.

        Hasil pengamatan lapangan ini semua memerlukan analisis dan penyusunan 
strategi yang briliant, dan juga sekaligus "bil hikmah" serta "istiqomah". 
Perlu pendekatan kompromistis tanpa harus menyelewengkan nilai-nilai al-Islam. 
Mereka berpikir keras dan menyusun strategi. Akhirnya diputuskan untuk menempuh 
jalan da'wah sirriyyah (da'wah secara diam-diam).

        Dalam musyawarah pasca Aqabah itu, diputuskan juga untuk menugaskan 
seseorang untuk menghadap RasuluLlah, meminta kepada beliau untuk mengirimkan 
seorang da'i dan instruktur ke Yastrib. Da'i ini dipandang sangat perlu untuk 
mengajar "alif-ba-ta"nya ajaran-ajaran Al-Qur'an, sekaligus menjadi "uswah" 
mereka dalam cara hidup yang Islami. Menurut mereka inilah cara terbaik untuk 
meningkatkan akselerasi da'wah di Yastrib, tanpa harus kehilangan arah.

        RasuluLlah sangat menghargai nilai strategis yang telah diputuskan oleh 
kaum muslimin Yastrib, beliau juga sangat memahami obsesi yang mereka miliki 
saat itu. Akhirnya, beliau memutuskan untuk mengabulkan permohonan delegasi 
Yastrib, serta menunjuk Mush'ab al Khair bin 'Umair RA. Tentunya bukan tanpa 
alasan RasuluLlah memilih pemuda pendiam yang satu ini. Beberapa sisi kehidupan 
yang ada pada diri Mush'ab sangat menentukan dalam mengantarkannya menduduki 
jabatan penting ini. Ia adalah kader RasuluLlah hasil binaan dan tempaan madrasah 
Arqom bin Arqom. Dengan begitu kualitas dan taat asasnya sangat terjamin.

        Mush'ab  adalah tipe muslim yang mengutamakan banyak kerja. Dengan sikap 
"sami'na wa atho'na", Mush'ab menerima tugas yang diamanahkan RasululuLlah ke 
atas pundaknya. Jadilah ia seorang utusan dari Sang Utusan. Dengan segera, 
sesampainya di Yastrib, Mush'ab menemui para naqib (pimpinan kelompok) yang 
ditunjuk RasuluLlah di Aqabah. Dengan mereka, Mush'ab membuat outline langkah-
langkah da'wah yang akan mereka lakukan. Untuk menghindari benturan langsung 
dengan masyarakat Yahudi, yang saat itu sangat geram karena mengetahui bahwa 
Nabi Terakhir ternyata bukan dari kalangan mereka, Mush'ab menetapkan untuk 
mempertahankan jalan da'wah secara sirriyyah. Disamping itu, ditetapkan untuk 
mempertinggi intensitas da'wah kepada beberapa kabilah, terutama Aus dan Khajraj, 
karena kedua kabilah ini dinilai sangat potensial dan merupakan kunci dalam 
memudahkan jalan da'wah.

        Mush'ab bin Umair terjun langsung memimpin para naqib dalam berda'wah. 
Beliau berda'wah tanpa membagi-bagikan roti dan nasi atau jampi-jampi. Ia 
meyakini Islam ini adalah dienul-haq, dan harus disampaikan dengan haq (benar) 
pula, bukan dengan bujukan apalagi paksaan. Mush'ab terkenal sangat lembut 
namun tegas dalam menyampaikan da'wahnya, termasuk ketika ia diancam dengan 
pedang oleh Usaid bin Khudzair dan Sa'ad bin Muadz, dua pemuka Bani Abdil Asyhal. 
Dengan tenang, Mush'ab berkata: "Mengapa anda tidak duduk dulu bersama kami 
untuk mendengarkan apa yang saya sampaikan? Bila tertarik, alhamduliLlah, bila 
tidak, kami pun tidak akan memaksakan apa-apa yang tidak kalian sukai." Keduanya 
terdiam dan menerima tawaran Mush'ab, duduk mendengarkan apa yang dikatakannya. 
Mereka ternyata tidak hanya sekedar tertarik, dengan seketika keduanya 
bersyahadat ... dan tidak itu saja mereka kembali kepada kelompok masyarakatnya 
dan mengajak mereka semua memeluk Islam.

        Demikianlah, satu persatu kabilah-kabilah di Yastrib menerima Islam. Hampir 
semua anggota kedua kabilah besar: Aus dan Khajraj, mau dan mampu menerima Islam. 
Gaya hidup terasa mulai berubah di Yastrib. Lingkaran jamaah muslim semakin 
melebar, hampir di setiap perkampungan ditemui halaqah-halaqah Al-Qur'an.

        Potensi ummat telah tergalang, namun demikian Mush'ab tidak lantas merasa 
berwenang untuk memutuskan langkah da'wah selanjutnya. Untuk itu Mush'ab mengirim 
utusan kepada RasuluLlah untuk meminta pendapat beliau mengenai langkah da'wah 
selanjutnya, apakah perlu diadakan "show of force" dengan sholat berjamaah.

        Musim haji tiba! Mush'ab bersama tujuh puluh-an muslim Yastrib menuju 
Makkah dengan tujuan utama menemui pimpinannya: RasuluLlah SAW, untuk melaporkan 
hasil dan problema da'wah di Yastrib, serta mengantarkan para muslimin Yastrib 
untuk berbai'ah kepada RasuluLlah  SAW. Mush'ab tidak berlama-lama di kampung 
halamannya, karena tugasnya di Yastrib telah menanti. Beliau segera kembali 
bersama rombongan menuju ke Yastrib untuk semakin menggiatkan aktifitas da'wah, 
serta mempersiapkan kondisi bila sewaktu-waktu RasuluLlah dan muslimin Makkah 
berhijrah ke Yastrib. Penerapan nilai-nilai Islam di Yastrib berjalan mulus, 
murni dan konsekuen. Kaum Yahudi tidak banyak berbicara, mereka melihat kekuatan 
muslimin yang semakin besar, sulit untuk dipecah. Singkatnya, saat itu, kota 
Yastrib dan mayoritas penduduknya telah siap secara aqidah dan siyasah (politik). 
Mereka dengan antusias menantikan kedatangan RasuluLlah dan muslimin Makkah.

        Akhirnya,  sampailah  para muhajirrin  dari  Makkah  di Madinah ...
Islam berkembang semakin luas dan kuat. Pada titik ini, bukan berarti 
Mush'ab minta pensiun, karena beliau menyadari bahwa tugas seorang da'i tak 
kenal henti. Beliau tetap terlibat aktif dalam da'wah dan peperangan. Beliau 
mendapatkan syahid-nya di medan pertempuran Uhud. RasuluLlah sangat terharu 
sampai menitikkan air mata ketika melihat jenazah Mush'ab. Kain yang dipakai 
untuk mengkafaninya tidak cukup, bila ditarik untuk menutupi kepalanya, 
tersingkaplah bagian kakinya, dan bila di tarik ke bawah, tersingkaplah 
bagian kepalanya. RasuluLlah  terkenang dengan masa muda pemuda Quraisy 
ini yang mempunyai puluhan pasang pakaian yang indah-indah. Saat itulah 
RasuluLlah membaca bagian dari surat al-Ahzab ayat 23:

  "Sebagian mu'min ada yang telah menepati janji mereka kepada
  ALlah, sebagian mereka mati syahid, sebagian lainnya masih
  menunggu, dan mereka memang tidak pernah mengingkari janji."

        Mush'ab  bin 'Umair wafat dalam usia belum lagi 40 tahun. Ia masih muda, 
tidak sempat melihat hasil positif dari kerja akbar yang telah dilakukannya. 
Semoga ALlah Rabbul Jalil merahmati Mush'ab al-Khair bin 'Umair.
Posted by: abustomih | 19 August 2008

Fatimah Az Zahra

 Fatimah adalah "ibu dari ayahnya." Dia adalah puteri yang
mulia dari dua pihak, yaitu puteri pemimpin para makhluq Rasulullah
SAW, Abil Qasim, Muhammad bin Abdullah bin Abdul Muththalib bin Hasyim.
Dia juga digelari Al-Batuul, yaitu yang memusatkan perhatiannya pada
ibadah atau tiada bandingnya dalam hal keutamaan, ilmu, akhlaq, adab,
hasab dan nasab.
        Fatimah lebih muda dari Zainab, isteri Abil Ash bin Rabi' dan
Ruqayyah, isteri Utsman bin Affan. Juga dia lebih muda dari Ummu Kul-
tsum. Dia adalah anak yang paling dicintai Nabi SAW sehingga beliau
bersabda :"Fatimah adalah darah dagingku, apa yang menyusahkannya juga
menyusahkan aku dan apa yang mengganggunya juga menggangguku." [Ibnul
Abdil Barr dalam "Al-Istii'aab"]
        Sesungguhnya dia adalah pemimpin wanita dunia dan penghuni
syurga yang paling utama, puteri kekasih Robbil'aalamiin, dan ibu dari
Al-Hasan dan Al-Husein. Az-Zubair bin Bukar berkata :"Keturunan Zainab
telah tiada dan telah sah riwayat, bahwa Rasulullah SAW menyelimuti
Fatimah dan suaminya serta kedua puteranya dengan pakaian seraya ber-
kata :"Ya, Allah, mereka ini adalah ahli baitku. Maka hilangkanlah
dosa dari mereka dan bersihkanlah mereka sebersih-bersihnya." ["Siyar
A'laamin Nubala', juz 2, halaman 88]
        Dari Abu Hurairah r.a., dia berkata :"Datang Fatimah kepada
Nabi SAW meminta pelayan kepadanya. Maka Nabi SAW bersabda kepadanya :
"Ucapkanlah :"Wahai Allah, Tuhan pemilik bumi dan Arsy yang agung.
Wahai, Tuhan kami dan Tuhan segala sesuatu yang menurunkan Taurat,
Injil dan Furqan, yang membelah biji dan benih. Aku berlindung kepada-
Mu dari kejahatan segala sesuatu yang Engkau kuasai nyawanya. Engkau-
lah awal dan tiada sesuatu sebelum-Mu. Engkau-lah yang akhir dan tiada
sesuatu di atas-Mu. Engkau-lah yang batin dan tiada sesuatu di bawah-
Mu. Lunaskanlah utangku dan cukupkan aku dari kekurangan." (HR. Tirmidzi)
        Inilah Fatimah binti Muhammad SAW yang melayani diri sendiri
dan menanggung berbagai beban rumahnya. Thabrani menceritakan, bahwa
ketika kaum Musyrikin telah meninggalkan medan perang Uhud, wanita-
wanita sahabah keluar untuk memberikan pertolongan kepada kaum Muslimin.
Di antara mereka yang keluar terdapat Fatimah. Ketika bertemu Nabi SAW,
Fatimah memeluk dan mencuci luka-lukanydengan air, sehingga darah
semakin banyak yangk keluar. Tatkala Fatimah melihat hal itu, dia
mengambil sepotong tikar, lalu membakar dan membubuhkannya pada luka
itu sehingga melekat dan darahnya berhenti keluar." (HR. Syaikha dan
Tirmidzi) Dalam kancah pertarungan yang dialami ut kita, tampaklah
peranan puteri Muslim supaya menjadi teladan yang baik bagi pemudi
Muslim masa kini.
        Pemimpin wanita penghuni Syurga Fatimah Az-Zahra', puteri Nabi
SAW, di tengah-tengah pertempuran tidak berada dalam sebuah panggung
yang besar, tetapi bekerja di antara tikaman-tikaman tombak dan pukulan-
pukulan pedang serta hujan anak panah yang menimpa kaum Muslimin untuk
menyampaikan makanan, obat dan air bagi para prajurit. Inilah gambaran
lain dari pute sebaik-baik makhluk yang kami persembahkan kepadada para
pengantin masa kini yang membebani para suami dengan tugas yang tidak
dapat dipenuhi.
        Ali r.a. berkata :"Aku menikahi Fatimah, sementara kami tidak
mempunyai alas tidur selain kulit domba untuk kami tiduri di waktu
malam dan kami letakkan di atas unta untuk mengambil air di siang hari.
Kami tidak mempunyai pembantu selain unta itu." Ketika Rasulullah SAW
menikahkannya (Fatimah), belmengirimkannya (unta itu) bersama satu
lembar kain dan bantal kulit berisi ijuk dan dua alat penggiling gandum,
sebuah timba dan dua kendi. Fatimah menggunakan alat penggiling gandum
itu hingga melecetkan tangannya dan memikul qirbah (tempat air dari kulit)
berisi air hingga berbekas pada dadanya. Dia menyapu rumah hingga berdebu
bajunya dan menyalakan api di bawah panci hingga mengotorinya juga. Inilah
dia, Az-Zahra', ibu kedua cucu Rasulullah SAW :Al-Hasan dan Al-Husein.
        Fatimah selalu berada di sampingnya, maka tidaklah mengherankan
bila dia meninggalkan bekas yang paling indah di dalam hatinya yang
penyayang. Dunia selalu mengingat Fatimah, "ibu ayahnya, Muhammad", Al-
Batuul (yang mencurahkan perhatiannya pada ibadah), Az-Zahra' (yang ce-
merlang), Ath-Thahirah (yang suci), yang taat beribadah dan menjauhi
keduniaan. Setiap merasa lapar, dia selalu sujud, dan setiap merasa payah,
dia selalu berdzikir. Imam Muslim menceritakan kepada kita tentang keuta-
maan-keutamaannya dan meriwayatkan dari Aisyah' r.a. dia berkata :
        "Pernah isteri-isteri Nabi SAW berkumpul di tempat Nabi SAW. Lalu
datang Fatimah r.a. sambil berjalan, sedang jalannya mirip dengan jalan
Rasulullah SAW. Ketika Nabi SAW melihatnya, beliau menyambutnya seraya
berkata :"Selamat datang, puteriku." Kemudian beliau mendudukkannya di
sebelah kanan atau kirinya. Lalu dia berbisik kepadanya. Maka Fatimah
menangis dengan suara keras. Ketika melihat kesedihannya, Nabi SAW ber-
bisik kepadanya untuk kedua kalinya, maka Fatimah tersenyum. Setelah itu
aku berkata kepada Fatimah :Rasulullah SAW telah berbisik kepadamu secara
khusus di antara isteri-isterinya, kemudian engkau menangis!" Ketika Nabi
SAW pergi, aku bertanya kepadanya :"Apa yang dikatakan Rasulullah SAW
kepadamu ?" Fatimah menjawab :"Aku tidak akan menyiarkan rahasia Rasul
Allah SAW." Aisyah berkata :"Ketika Rasulullah SAW wafat, aku berkata
kepadanya :"Aku mohon kepadamu demi hakku yang ada padamu, ceritakanlah
kepadaku apa  yang dikatakan Rasulullah SAW kepadamu itu ?" Fatimah pun
menjawab :"Adapun sekarang, maka baiklah. Ketika berbisik pertama kali
kepadaku, beliau mengabarkan kepadaku bahwa Jibril biasanya memeriksa
bacaannya terhadap Al Qur'an sekali dalam setahun, dan sekarang dia
memerika bacaannya dua kali. Maka, kulihat ajalku sudah dekat. Takutlah
kepada Allah dan sabarlah. Aku adalah sebaik-baik orang yang mendahului-
mu." Fatimah berkata :"Maka aku pun menangis sebagaimana yang engkau
lihat itu. Ketika melihat kesedihanku, beliau berbisik lagi kepadaku,
dan berkata :"Wahai, Fatimah, tidakkah engkau senang menjadi pemimpin
wanita-wanita kaum Mu'min  atau ummat ini ?" Fatimah berkata :"Maka aku
pun tertawa seperti yang engkau lihat."
        Inilah dia, Fatimah Az-Zahra'. Dia hidup dalam kesulitan, tetapi
mulia dan terhormat. Dia telah menggiling gandum dengan alat penggiling
hingg berbekas pada tangannya. Dia mengangkut air dengan qirbah hingga
berbekas pada dadanya. Dan dia menyapu rumahnya hingg berdebu bajunya.
Ali r.a. telah membantunya dengan melakukan pekerjaan di luar. Dia ber-
kata kepada ibunya, Fatimah binti Asad bin Hasyim :"Bantulah pekerjaan
puteri Rasulullah SAW di luar dan mengambil air, sedangkan dia akan men-
cupimu bekerja di dalam rumah :yaitu membuat adonan tepung, membuat roti
dan menggiling gandum."
        Tatkala suaminya, Ali, mengetahui banyak hamba sahaya telah
datang kepada Nabi SAW, Ali berkata kepada Fatimah, "Alangkah baiknya
bila engkau pergi kepada ayahmu dan meminta pelayan darinya." Kemudian
Fatimah datang kepada Nabi SAW. Maka beliau bertanya kepadanya :"Apa
sebabnya engkau datang, wahai anakku ?" Fatimah menjawab :"Aku datang
untuk memberi salam kepadamu." Fatimah merasa malu untuk meminta kepadanya,
lalu pulang. Keesokan harinya, Nabi SAW datang kepadanya, lalu bertanya :
"Apakah keperluanmu ?" Fatimah diam.
        Ali r.a. lalu berkata :"Aku akan menceritakannya kepada Anda,
wahai Rasululllah. Fatimah menggiling gandum dengan alat penggiling
hingga melecetkan tangannya dan mengangkut qirbah berisi air hingga
berbekas di dadanya. Ketika hamba sahaya datang kepada Anda, aku me-
nyuruhnya agar menemui dan meminta pelayan dari Anda, yang bisa mem-
bantunya guna meringankan bebannya."
        Kemudian Nabi SAW bersabda :"Demi Allah, aku tidak akan memberikan
pelayan kepada kamu berdua, sementara aku biarkan perut penghuni Shuffah
merasakan kelaparan. Aku tidak punya uang untuk nafkah mereka, tetapi aku
jual hamba sahaya itu dan uangnya aku gunakan untuk nafkah mereka."
        Maka kedua orang itu pulang. Kemudian Nabi SAW datang kepada mereka
ketika keduanya telah memasuki selimutnya. Apabila keduanya menutupi kepala,
tampak kaki-kaki mereka, dan apabila menuti kaki, tampak kepala-kepala
mereka. Kemudian mereka berdiri. Nabi SAW bersabda :"Tetaplah di tempat
tidur kalian. Maukah kuberitahukan kepada kalian yang lebih baik daripada
apa yang kalian minta dariku ?" Keduanya menjawab :"Iya." Nabi SAW bersabda:
"Kata-kata yang diajarkan Jibril kepadaku, yaitu hendaklah kalian mengucap-
kan : Subhanallah setiap selesai shalat 10 kali, Alhamdulillaah 10 kali
dan Allahu Akbar 10 kali. Apabila kalian hendak tidur, ucapkan Subhanallah
33 kali, Alhamdulillah 33 kali dan takbir (Allahu akbar) 33 kali."
        Dalam mendidik kedua anaknya, Fatimah memberi contoh : Adalah
Fatimah menimang-nimang anaknya, Al-Husein seraya melagukan :"Anakku
ini mirip Nabi, tidak mirip dengan Ali."
        Dia memberikan contoh kepada kita saat ayahandanya wafat. Ketika
ayahnya menjelang wafat dan sakitnya bertambah berat, Fatimah berkata :
"Aduh, susahnya Ayah !" Nabi SAW menjawab :"Tiada kesusahan atas Ayahanda
sesudah hari ini." Tatkala ayahandanya wafat, Fatimah berkata :"Wahai,
Ayah, dia telah memenuhi panggilang Tuhannya. Wahai, Ayah, di surfa Firdaus
tempat tinggalnya. Wahai, Ayah, kepada Jibril kami sampaikan beritanya."
        Fatimah telah meriwayatkan 18 hadits dari Nabi SAW. Di dalam
Shahihain diriwayatkan satu hadits darinya yang disepakati oleh Bukhari
dan Muslim dalam riwayat Aisyah. Hadits tersebut diriwayatkan oleh Tirmi-
dzi, Ibnu Majah dan Abu Dawud.  Ibnul Jauzi berkata :"Kami tidak mengetahui
seorang pun di antara puteri-puteri Rasulullah SAW yang lebih banyak me-
riwayatkan darinya selain Fatimah."
        Fatimah pernah mengeluh kepada Asma' binti Umais tentang tubuh
yang kurus. Dia berkata :"Dapatkah engkau menutupi aku dengan sesuatu ?"
Asma' menjawab :"Aku melihat orang Habasyah membuat usungan untuk wanita
dan mengikatkan keranda pada kaki-kaki usungan." Maka Fatimah menyuruh
membuatkan keranda untuknya sebelum dia wafat. Fatimah melihat keranda
itu, maka dia berkata :"Kalian telah menutupi aku, semoga Allah menutupi
aurat kalian." [Imam Adz-Dzhabi telah meriwayatkan dalam "Siyar A'laamin
Nubala'. Semacam itu juga dari Qutaibah bin Said ...dari Ummi Ja'far]
        Ibnu Abdil Barr berkata :"Fatimah adalah orang pertama yang
dimasukkan ke keranda pada masa Islam." Dia dimandikan oleh Ali dan
Asma', sedang Asma' tidak mengizinkan seorang pun masuk. Ali r.a.
berdiri di kuburnya dan berkata :
        Setiap dua teman bertemu tentu
        akan berpisah
        dan semua yang di luar kematian
        adalah sedikit kehilangan satu demi satu
        adalah bukti bahwa teman itu
        tidak kekal
        Semoga Allah SWT meridhoinya. Dia telah memenuhi pendengaran,
mata dan hati. Dia adalah 'ibu dari ayahnya', orang yang paling erat
hubungannya dengan Nabi SAW dan paling menyayanginya. Ketika Nabi SAW
terluka dalam Perang Uhud, dia keluar bersama wanita-wanita dari Madinah
menyambutnya agar hatinya tenang. Ketika melihat luka-lukanya, Fatimah
langsung memeluknya. Dia mengusap darah darinya, kemudian mengambil air
dan membasuh mukanya.
        Betapa indah situasi di mana hati Muhammad SAW berdenyut
menunjukkan cinta dan sayang kepada puterinya itu. Seakan-akan
kulihat Az-Zahra' a.s. berlinang air mata dan berdenyut hatinya
dengan cinta dan kasih sayang. Selanjutnya, inilah dia, Az-Zahra',
puteri Nabi SAW, puteri sang pemimpin. Dia memberi contoh ketika
keluar bersama 14 orang wanita, di antara mereka terdapat Ummu
Sulaim binti Milhan dan Aisyah Ummul Mu'minin r.a. dan mengangkut
air dalam sebuah qirbah dan bekal di atas punggungnya untuk memberi
makan kaum Mu'minin yang sedang berperang menegakkan agama Allah SWT.
Semoga kita semua, kaum Muslimah, bisa meneladani para wanita mulia
tersebut. Amiin yaa Robbal'aalamiin.
Wallahu a'lam bishowab.
Posted by: abustomih | 17 August 2008

Mahasiswa Unjuk Rasa di Depan Gedung DPR

JAKARTA–MI: Sekitar 100 mahasiswa dari beberapa universitas, termasuk Universitas Indonesia (UI), Universitas Negeri Jakarta (UNJ), Universitas Gajah Mada (UGM) melakukan unjuk rasa di depan Gedung DPR/MPR, Jakarta, Jumat (15/8).

Unjuk rasa yang dimulai sejak pukul 09.00 WIB itu berlangsung hingga Presiden Susilo Bambang Yudhoyono menyelesaikan penyampaian pidato kenegaraan dalam Rapat paripurna DPR RI sekitar 11.30 WIB.

Mahasiswa menyampaikan empat tuntutan yaitu turunkan harga BBM bersubsidi, menuntut profesionalisme dan transparansi kinerja Panitia Hak Angket DPR untuk selidiki keputusan menaikkan harga BBM.

Mahasiswa juga mendesak Presiden menghadiri sidang Panitia Angket DPR sebagai bentuk pertanggungjawaban menaikkan harga BBM. Selain itu, mahasiswa menuntut dilakukan nasionalisasi aset strategis Migas milik bangsa sebagai visi besar menunju kemandirian bangsa.

Koordinator Badan Pengurus BEM se-Indonesia Budianto (Presiden Mahaiswa UGM) menyatakan aksi bukan yang pertama dan terakhir. Mereka menyatakan ikrar keberlanjutan tujuh gugatan rakyat (Tugu Rakyat) untuk mempersamai jalannya pemerintahan yang cerdas dan berkuatitas.

Sementara itu, sekitar 50 mahasisawa UI yang dikerahkan BEM UI, menurut salah satu aktivisnya, Nugroho (mahasiswa Fisip UI Jurusan Krimonologi), mendukung empat tuntutan BEM se-Indonesia. “BEM harus kembali turun ke jalan,” katanya.

Ia menyatakan, respon ini merupakan bentuk evaluasi terhadap kinerja pemerintah, dimulai dari naiknya harga BBM, hingga turunnya harga minyak dunia.

Mereka menyatakan, kenaikan harga BBM berhasil menaikkan harga kebutuhan pokok diikuti kesenjangan sosial makin luas, angka kemiskinan meningkat, jumlah pengangguran bertambah, meskipun pertumbuhan ekonomi membaik.

“Kami menilai indikator ekonomi yang dipaparkan pemerintah adalah semu. Pemerintah gagal menggambarkan kondisi obyektif rakyat sesungguhnya,” katanya.

Aparat kepolisian dari Polda Metro Jaya berkekuatan 1 SSK telah membentengi para pengunjuk rasa. Mahasiswa bertakad bertahan di depan Gedung Parlemen dan mengelilingi komplek parlemen untuk mencegah iring-iringan Presiden. (Ant/OL-01)

Posted by: abustomih | 17 August 2008

Drama SBY, DPR dan Rakyat di depan Gedung DPR

Abustomih

Abustomih

Aksi teatrikal mewarnai unjuk rasa yang dilakukan Badan Eksekitif Mahasiwa Seluruh Indonesia (BEM SI) di depan Gedung Dewan Perwakilan Rakyat (DPR), Jum`at siang (13/8). Ratusan mahasiswa dari berbagai universitas tersebut menggelar aksi untuk menyikapi pidato kenegaraan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono.

Dalam aksi teatrikalnya, digambarkan Presiden SBY sedang pidato di gedung DPR yang tengah menebarkan pesona dan anggota DPR yang disuap digambarkan menutup mulutnya dengan uang, sedangkan rakyat yang kelaparan membawa wadah makanan yang kosong.

Mahasiwa dalam aksi tersebut ingin menunjukkan bagaimana realitas yang terjadi di Indonesia pada saat ini. BEM SI dalam aksinya menuntut agar SBY menurunkan harga BBM bersubsidi dan bertanggung jawab atas kebijakan kenaikan BBM melalui hak angket DPR. Mahasiswa juga menuntut DPR agar profesional dan transparansi dalam pelaksaanaan hak angket BBM, serta segera menasionalisasi aset migas di Indonesia.

Abustomih, Koordinator aksi menegaskan bahwa momentum kemerdekaan indonesia 17 agustus 2008 harus mampu mengembalikan kedaulatan rakyat sesungguhnya. salah satunya menurut mensospol BEM UNJ ini adalah dengan APBN Pro rakyat dan Segera Nasionalisasi Aset Strategis bangsa terutama sektor migas.

Older Posts »

Categories